membentangkan sunyi di atas kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Lampu-lampu menjadi bintang buatan,
menyala untuk menutupi lelah yang disembunyikan manusia.
Angin berjalan tanpa suara,
menyisir gang-gang pikiran yang sempat gaduh.
Dan aku duduk dalam diam,
mendengar detak waktu seperti tasbih yang tak putus.
Malam bukan sekadar gelap,
ia adalah ruang panjang untuk merenung.
Tempat jiwa menyusun ulang dirinya,
setelah bertarung dengan cakrawala.
Di bawah langit hitam yang luas,
aku sadar: tidak semua luka harus dijelaskan,
tidak semua sedih harus diumumkan,
sebab sebagian ujian memang ditakdirkan menjadi rahasia.
Malam mengajarkan ketundukan,
bahwa manusia hanyalah titik kecil di semesta.
Namun dalam kecil itu,
Tuhan tetap menitipkan harapan dan ampunan.
Aku menengadah—menyebut nama-Mu pelan,
sebab doa tak selalu perlu kata-kata panjang.
Kadang cukup satu kalimat ikhlas,
yang keluar dari hati paling dalam.
Terima kasih ya Rabb,
atas malam yang Kau jadikan tempat bernaung.
Di balik gelapnya,
ada tenang yang tak bisa dibeli oleh apa pun.
Dan jika esok masih Kau izinkan mata terbuka,
maka malam ini biarlah menjadi saksi:
aku pernah lelah,
namun tetap percaya pada rahmat-Mu.
Ilafat Pangeran Wijaya Kusuma–Jayakarta, 23 April 2026 M
Komentar
Posting Komentar